Apa
yang Anda harapkan ketika melakukan aktivitas seks? Jawabannya mungkin
merasakan kenikmatan orgasme. Namun jika Anda tidak mendapatkan big “O”,
apakah berarti Anda tidak menikmati aktivitas seksual? Paula Hall
seorang psikolog yang menulis kolom seks di bbc.com, menjelaskan hal
tersebut, sebagai berikut.
Apakah orgasme?
Menurut
Paula, definisi kepuasan seks atau orgasme pada setiap orang berbeda.
Namun seorang terapis ternama tahun 1953 mendefinisikan orgasme sebagai
letupan yang dialami tubuh sebagai akibat dari tegangan neuromuscular
(ketegangan otot dan syaraf) yang memuncak.
Namun
jika dijabarkan, sebenarnya orgasme atau kepuasan seksual itu dicapai
seseorang yang melakukan hubungan seksual, dengan gejala-gejala fisiki
tertentu:
Jantung berdetak lebih cepat, nafas menjadi lebih \"berat\" akibat otot di paru-paru menegang.
Rangsangan
dan sentuhan yang diterima memicu otak memroduksi hormon endorfin dan
oksitosin sehingga tubuh terasa nyaman (relaks).
Darah
mengalir lebih cepat ke seluruh tubuh termasuk ke area genital dan
menciptakan tekanan yang membuat otot-otot di bagian organ tubuh itu
berkontraksi.
Kontraksi yang terjadi pada otot panggul antara 5 – 15 kali dengan selang waktu 0.8 sampai 1 detik.
Apakah setiap hubungan seks menciptakan orgasme?
Sebaiknya
jangan jadikan orgasme sebagai tujuan aktivitas seks Anda. Keinginan
untuk meraih orgasme dalam setiap aktivitas seks justru membebani Anda
dan pasangan. Anda masih bisa menikmati aktivitas seks tanpa orgasme.
Yang Anda harus lakukan adalah menciptakan suasana aman, nyaman dan
relaks, seperti; saling merangsang, membisikkan kata-kata intim, dan
saling mengungkapkan rasa sayang. Suasana yang mendukung dan rangsangan
fisik yang dilakukan atau diterima, otomatis akan memicu orgasme.
Perempuan & Orgasme
Perempuan
sangat kompleks, dorongan dan kepuasan seksual perempuan ditentukan
oleh berbagai faktor, psikologis dan fisik. Kondisi ini menyebabkan
perempuan tidak mudah merasakan orgasme.
Faktor
fisik yang menentukan, misalnya; rangsangan yang kurang, sedang
menjalani terapi medis, atau tidak sehat. Sedangkan faktor psikologis
antara lain; stres, kecemasan, depresi atau ketidakserasian dengan
pasangan.
Namun,
karena pandangan yang keliru tentang orgasme sebagai indikator
kesuksesan hubungan seksual, perempuan cenderung berusaha mencapai
orgasme. Atau jika tidak bisa merasakannya, perempuan berpura-pura
mencapai merasakannya.
Jika hal ini sering dilakukan, adakah dampak bagi pasangan?
Dampak
fisik mungkin tidak ada. Namun mengingat sifat lelaki yang selalu ingin
merasa berguna, ketidakjujuran dalam merasakan kepuasan seksual justru
mengganggu ego lelaki. Ia merasa tidak bisa memuaskan pasangan dan tidak
berguna sebagai lelaki. Jika tahu bahwa mereka ditipu, mereka menjadi
tidak nyaman, dan kondisi ini bisa merusak hubungan Anda dengannya.
Daripada
berpura-pura, Anda bisa kemukakan secara jujur saat Anda tidak mood
untuk melakukan aktivitas seksual. Atau jika Anda tidak kunjung
merasakan orgasme, Anda bisa megemukakannya secara jujur pada pasangan.
Kualitas bukan Kuantitas
Hal
yang penting diperhatikan tentang orgasme, bukanlah seberapa sering
Anda merasakannya, melainkan bagaimana hal itu dapat Anda rasakan.
Orgasme bukanlah indikasi kepuasan kehidupan seksual Anda dan pasangan.
Hal ini disebabkan karena aktivitas seksual bukanlah penyatuan dua tubuh
semata, melainkan penyatuan jiwa dan ungkapan kepuasan Anda menikmati
hubungan yang nyaman bersama pasangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar